Dystonia : Simptom, Penyebab dan Pengobatan

Dystonia : Simptom, Penyebab dan Pengobatan

Dystonia adalah kondisi medis yang dikaraterisasikan dengan kontraksi otot secara tidak sadar yang disebabkan postur abnormal dan gerakan yang berulang. Dalam beberapa kasus, gerakan yang mirip dengan getaran. Gerakan secara sengaja pada otot yang sakit akan membuat kondisi semakin parah dan menyebar ke otot terdekat.

Penyakit ini mampu membuat para penderita mengalami gangguan secara fisik dan psikologis karena rasa sakit dan stres serta tekanan yang dialaminya.

dystonia

Gejala Dystonia

Gejala dystonia sangat bervariasi, tergantung dari jenis dystonia serta waktu awal kejadiannya (onsetnya). Berdasarkan waktu, dystonia dibagi menjadi dua, yakni dystonia onset dini dan dystonia onset lambat.

Pada dystonia onset dini, gejala awal akan muncul pada usia anak-anak atau remaja. Gejala biasanya akan bermula dari lengan atau kaki sebelum akhirnya menyebar ke bagian tubuh lainnya. Berikut adalah beberapa jenis dystonia onset dini serta gejala-gejalanya.

  1. Dystonia generalisasi: Dystonia generalisasi kerap menyerang anak-anak menjelang remaja, dan gejalanya biasanya dimulai dari bagian otot kaki sebelum menyebar ke anggota tubuh lainnya. Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain kram otot, postur tubuh bengkok dan tidak normal, kaki dan tangan menekuk ke arah dalam, dan kejang.
  2. Dystonia dopa-responsive: Dystonia dopa-responsive termasuk dalam kelompok dystonia generalisasi, dan biasanya menyerang kelompok usia 6-16 tahun. Gejala yang paling sering dijumpai adalah cara berjalan yang kaku dan aneh. Telapak kaki bisa menekuk ke arah atas, atau bisa menekuk ke arah luar. Gejala lain seperti kaku otot dan kram di lengan dan pundak dapat terjadi, meski jarang.
  3. Dystonia myoclonus: Ini merupakan jenis dystonia yang jarang, di mana bagian tubuh seperti lengan, leher, dan pundak bisa terserang. Biasanya, dystonia ini menyerang dua bagian tubuh yang berkaitan (dystonia segmental), dan menimbulkan gejala seperti hentakan tiba-tiba seperti orang tersengat listrik.

Sedangkan untuk dystonia onset lambat, gejala awal mulai muncul pada usia dewasa, dan serangan biasanya dimulai dari kepala, leher atau lengan dan tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya. Gejala late onset tidak menyebar ke anggota tubuh yang lainnya. Yang termasuk dystonia onset lambat adalah:

  1. Dystonia servikal: Dystonia servikal atau yang disebut juga dengan tortikolis adalah dystonia yang hanya menyerang 1 bagian tubuh (dystonia fokal), yakni leher. Kontraksi di leher dapat menyebabkan leher berputar ke atas (mendongak), ke bawah (menunduk), atau ke samping.
  2. Blefarospasme: Blefarospasme adalah kondisi di mana terjadi kelemahan otot di sekitar mata, sehingga mata akan secara tidak sadar terpejam. Pada beberapa kasus yang parah, pasien sampai tidak mampu membuka matanya.

Diagnosis Dystonia

  1. Tes urin dan sampel darah – tes ini bertujuan untuk memeriksa fungsi organ tubuh, misalnya hati, serta untuk melihat apakah ada proses infeksi atau kadar senyawa beracun di dalam tubuh Anda.
  2. Tes genetik – pengambilan sampel DNA biasanya digunakan untuk mencari tahu apakah Anda memiliki kelainan gen yang berhubungan dengan dystonia. Tes DNA juga dapat menentukan apakah dystonia Anda disebabkan oleh penyakit genetik seperti penyakit Huntington’s.
  3. Magnetic Resonance Imaging (MRI) – tes pencitraan ini berguna untuk memeriksa apakah ada gangguan atau kerusakan di otak, dan dapat berguna juga untuk mendeteksi adanya tumor di otak.
  4. Electromyography (EMG) – tes ini berfungsi untuk mengukur aktivitas aliran listrik di dalam otot.

Pengobatan Dystonia

Dystonia tidak bisa disembuhkan, namun ada beberapa pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi frekuensi kemunculan gejala dan tingkat keparahannya, yaitu melalui:

  1. Suntikan Botox (Botulinum Toxin): Botulinum toxin bekerja dengan cara menghambat senyawa-senyawa penyebab kekakuan/spasme otot sehingga tidak mencapai target otot sasaran. Botulinum toxin diberikan secara suntikan, dan dilakukan langsung pada area yang terkena. Efek suntikan botox akan bertahan selama dua hingga tiga bulan sebelum dilakukan suntikan ulangan. Suntikan botox biasanya diberikan pada dystonia fokal atau dystonia
  2. Obat-obatan: Obat-obatan yang diberikan adalah jenis obat yang bekerja untuk menghambat sinyal-sinyal di otak yang merangsang kekakuan otot. Dokter mungkin akan meresepkan beberapa macam obat sesuai dengan kondisi penderita, seperti levodopa (untuk mengontrol gerakan motorik dan bisa juga diberikan pada penderita penyakit Parkinson), obat antikolinergik (untuk menghambat kimia asetilkolin penyebab kejang otot), balcofen (untuk mengontrol kejang dan juga bisa diberikan pada penderita lumpuh otak atau sklerosis ganda), diazepam (untuk menimbulkan efek relaksasi), tetrabenazine (untuk menghambat dopamin), dan clonazepam (untuk mengurangi gejala pergerakan otot yang berlebihan).
  3. Fisioterapi: Dokter mungkin juga akan menyarankan untuk melakukan terapi seperti fisioterapi, pijat atau peregangan otot untuk meredakan nyeri otot, terapi bicara, terapi sensorik untuk mengurangi kontraksi otot, hingga latihan pernapasan dan yoga.
Show Buttons
Hide Buttons
error: Content is protected !!