Emfisema

Diposting pada

Emfisema adalah penyakit paru kronik dan progresif yang terjadi ketika dinding-dinding alveoli rusak/hancur bersama dengan pembuluh-pembuluh darah kapiler yang mengalir didalamnya.   Hal ini mengurangi total area didalam paru dimana darah dan udara dapat bersentuhan sehingga membatasi potensi untuk pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Akibatnya terjadi penurunan aliran udara ekspirasi dan terjadi hiper-inflasi yang menyebabkan aliran udara terhambat dan terperangkap di paru-paru, sehingga tubuh tidak mendapatkan oksigen yang diperlukan.

Simpton dan Gejala Penyakit

Tanda dan Gejala Emfisema ringan semakin bertambah buruk selama penyakit terus berlangsung. Tanda dan gejala emfisema antara lain:

  1. Sesak napas
  2. Batuk kronis
  3. Kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun
  4. Kelelahan
  5. Pada inspeksi: bentuk dada ‘burrel chest’
  6. Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot aksesori pernapasan (sternokleidomastoid)
  7. Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.
  8. Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi
  9. Distensi vena leher selama ekspirasi

Emfisema

Diagnose penyakit

  1. Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru; mendatarnya diafragma; peningkatan area udara retrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula (emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).
  2. Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis., bronkodilator.
  3. TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan emfisema.
  4. Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema.
  5. Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkitis kronis, dan asma.
  6. FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengan kapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma
  7. GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronis
  8. Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial pada ekspirasi kuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yang terlihat pada bronchitis.
  9. JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisema luas), peningkatan eosinofil (asma)
  10. Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer
  11. Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi, mengidentifikasi patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi
  12. EKG: deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P (asma berat); disritmia atrial (bronkitis), peninggian gelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis, emfisema); aksis vertikal QRS (emfisema)
  13. EKG latihan, tes stres: membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan/evaluasi program latihan

Gambar. Kondisi  penyakit emfisema

Patologi Penyakit

Emfisema disebabkan karena hilangnya elastisitas alveolus. Alveolus sendiri adalah gelembung-gelembung yang terdapat dalam paru-paru. Pada penderita emfisema, volume paru-paru lebih besar dibandingkan dengan orang yang sehat karena karbondioksida yang seharusnya dikeluarkan dari paru-paru terperangkap di dalamnya. Asap rokok dan kekurangan enzim alfa-1-antitripsin adalah penyebab kehilangan elastisitas pada paru-paru ini.

Penyebab lainnya menurut Price & Wilson (2013) yaitu :

  1. Merokok

Merokok merupakan penyebab utama emfisema. Terdapat hubungan yang erat antara merokok dan penurunan volume ekspirasi paksa (FEV).

  1. Keturunan

Belum diketahui jelas apakah factor keturunan berperan atau tidak pada emfisema kecuali pada penderita dengan defisiensi enzim alfa 1-antitripsin. Kerja enzim ini menetralkan enzim proteulitik yang sering dikeluarkan pada peradangan dan merusak jaringan, termasuk jaringan paru, karena itu kerusakan jaringan lebih jauh dapat dicegah. Defisiensi alfa 1-antitripsin adalah suatu kelainan yang diturunkan secara autosom resesif. Orang yang sering menderita emfisema paru adalah penderita yang memiliki gen S atau Z. emfisema paru akan lebih cepat timbul bila penderita tersebut merokok.

  1. Infeksi

Infeksi dapat menyebabkan kerusakan paru lebih hebat sehingga gejala-gejalanya pun menjadi lebih berat. Infeksi saluran pernafasan atas pada seseorang penderita bronchitis kronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah, dan menyebabkan kerusakan paru bertambah. Eksaserbasi bronchitis kronis disangka paling sering diawali dengan infeksi skunder oleh bakteri.

  1. Hipotesis Elastase – Antielastase

Di dalam paru terdapat keseimbangan antara enzim proteolitik elastase dan antielastase agar tidak terjadi kerusakan jaringan. Perubahan keseimbangan antara keduanya akan menimbulkan kerusakan pada jaringan elastis paru. Struktur paru akan berubah dan timbulah emfisema. Sumber elastase yang penting adalah pancreas, sel-sel PMN, dan makrofag alveolar (pulmonary alveolar macropage—PAM). Rangsangan pada paru antara lain oleh asap rokok dan infeksi protease-inhibitor terutama enzim alfa 1-antitripsin menjadi menurun. Akibat yang ditimbulkan karena tidak ada lagi keseimbangan antara elastase dan antielastase akan menimbulkan kerusakan jaringan elastic paru dan kemudian emfisema

Pengobatan

Pengobatan / terapi farmakologi dapat dilakukan dengan:

  1. Pemberian Bronkodilator
  2. Golongan Teofilin, biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg BB per oral dengan memperhatikan kadar teofilin dalam darah. Konsentrasi dalam darah yang baik antara 10-15 mg/L
  3. Golongan Agonis B2, biasanya diberikan secara aerosol / nebulizer.
  4. Pemberian Kortikosteroid

Pada beberapa pasien, pemberian kortikosteroid akan berhasil mengurangi obstruksi saluran nafas.

  1. Mengurangi Sekresi Mucus
  2. Minum cukup,supaya tidak dehidrasi dan mucus lebih encer sehingga urine tetap kuning pucat.
  3. Ekspektoran, yang sering digunakan ialah gliseril guaiakolat, kalium yodida, dan amonium klorida.
  4. Nebulisasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencerkan sputum.

Mukolitik dapat digunakan asetilsistein atau bromheksin

Incoming search terms:

  • apa itu emfisema bula
  • azma penurunan
  • Pengobatan hiperinflasi paru adalah