alergi susu anak

Gejala dan Cara Mengatasi Alergi Susu Pada Anak

Diposting pada

Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sistem tubuh yang disebabkan oleh alergi terhadap susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun. (2) Reaksi alergi yang terjadi ini diprovokasi oleh protein yang ada dalam susu sapi. Susu merupakan protein yang spesifik untuk tiap spesiesnya, karenanya protein dalam susu sapi memang sesuai untuk usus sapi, tetapi belum tentu sesuai dengan  usus manusia. Bagi kebanyakan bayi, protein susu sapi merupakan protein asing yang pertama kali dikenalnya saat ia mendapat susu formula. (1)

SIMTOM DAN GEJALA PENYAKIT ALERGI SUSU

Selain pengelompokan di atas, pada dasarnya secara umum ciri-ciri bayi A. SUSU Gangguan saluran cerna yang ditandai dengan gejala sering muntah atau gumoh. Mengalami kembung dan cegukan. Tak jarang pula bayi terlihat sering buang angin, mulet atau ngeden juga cenderung leboh rewel dan gelisah utamanya di malam hari. Bayi yang terkena alergi susu sapi juga cenderung sering buang air besar meski pada kondisi tertentu ditemukan bayi yang malah menderita konstipasi. Adapun kotoran bayi yang terserang alergi umumnya cair berwarna hijau dengan bau yang lebih tajam. Ciri lainnya adalah terjadinta Hernia Umbilikalis atau area pusar menjadi menonjol, Scrotalis Inguinalis atau benjolan di daerah selangkangan dan juga buah zakar.

  1. Kulit menjadi sensitive dan sering muncul bintik atau bisul berwarna merah utamanya di bagian pipi dan sekitar mulut juga telinga. Muncul puka kerak di bagian kulit kepala dan muncul bercak berwarna hitam pada kulit layaknya bekas gigitan nyamuk. Selain itu, mata, telinga juga area rambit sering terasa gatal yang dibarengi dengan kondisi dimana kelenjar pada bagian belakang kepala membesar. Hal lain yang menjadi ciri-ciri bayi alergi susu sapi adalah kotoran telinga yang berlebih dan berbau tajam
  2. Ciri lainnya ada pada lidah yang sering ditumbuhi bercak putih sepert jamur. Sementara itu bibir bayi cenderung kering dan bibir bawah tepatnya pada bagian tengah berwarna lebih gelap kebiruan.
  3. Nafas berbunyi atau Hipersekresi Bronkus. Napas ini berbunyi dan disertai dengan batuk terutama di malam hari dan hilang di pagi hari.
  4. Hidung bayi menjadi lebih sensitive. Sering menderita bersin, pilek dan kotoran di hidung jadi lebih banyak. Bayi dalam kondisi ini umumnya sering tersedak sebab saluran pernapasannya tersumbat dan bernapas hanya dengan 1 lubang hidung.
  5. Mata menjadi lebih sensitive dan juga sering berair dan dipenuhi kotoran atau belekan.
  6. Produksi keringat bayi jadi berlebih walau suhu dingin sekalipun. Keringat biasanya muncul di bagian dahi.
  7. Ciri-ciri bayi alergi susu sapi lainnya adalah berat badannya yang berlebih atau bisa juga kurang. Hal ini dipicu kecenderungan bayi meminta minuman secara berlebihan demikian halnya sebaliknya.
  8. Saluran kencing menjadi tergangu. Umumnya gejalanya berupa warna urin yang cenderung orange atau merah.

alergi susu anak

Selain ciri-ciri fisik, ternyata bayi yang mengalami kondisi alergi susu sapi juga bisa mengalami perubahan psikologis atau prilaku. Adapun gejala yang bisa Anda amati antara lain:

  1. Gangguan bernama Neuro Anatomis yakni kondisi dimana bayi mudah kaget terlebih jika ada suara  pengganggu. Bayi juga jadi lebih sering gemetar terutama pada bagian tangan, bibir dan kaki.
  2. Gerakan motorik yang berlabihan juga merupakan ciri-ciri bayi alergi susu sapi.  Gejalanya bisa berupa kepala atau mata bayi sering melihat ke bagian tas. Sementara itu kaki dan tangannya aktif bergerak dan susah diam. Kepalanya sering digerakkan secara kaku ke belakang sehingga ia ada dalam posisi melengkung.
  3. Tidur yang terganggu terutama di malam hari menuju pagi. Bayi lebih gelisah dan bahkan tak jarang menangis, tertawa dan berteriak dalam tidurnya.
  4. Agresifitas bayi meningkat terutama di usia 6 bulan.
  5. Susah untuk berkonsentrsi dan mudah bosan terutama saat bermain. Saat meminum susu, perhatiannya dengan mudah akan teralih.
  6. Kondisi emosi bayi meningkat dan mudah menangis juga tidak sabaran.
  7. Gangguan Oral motor atau terlambat berbicara juga merupakan salah satu ciri-ciri bayi alergi susu sapi.
  8. Impulsif, lebih sering berteriak dibandi mengoceh atau bergumam khas bayi.
  9. Jika gejala ini berkepanjangan, bayi bisa saja mengalami kondisi ADHB dan juga Autis. Namun, alergi ini bukan pemicu hanya saja ia bisa memperberat bakat ADHB juga Autis sang bayi. Kerena itu, pahami ciri-ciri bayi alergi susu sapi secara benar agar bisa ditangani sedini mungkin.

DIAGNOSIS ALERGI SUSU SAPI

  • Diagnosis alergi susu sapi adalah suatu diagnosis klinis atau chalenge test berupa anamnesis yang cermat, mengamati tanda dan gejala alergi saat terjadi paparan susu sapi.
  • Pemeriksaan tambahan hanya melengkapi diagnosis alergi seperti pemeriksaan imunoglobulin E total dan spesifik susu sapi atau tes alergi kulit.
  • Pemeriksaan lain tidak dianjurkan karena tidak terbukti secara ilmiah, alat diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Bioresonansi, IgE4, Hair Analysis Testing in Allergy,  Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.
  • Untuk memastikan alergi susu sapi harus menggunakan provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC yang menjadi gold standard atau baku emas. Namun cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Center Rumah Sakit Bunda Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
  • Anamnesis atau mengetahui riwayat gejala dilihat dari jangka waktu timbulnya gejala setelah minum susu sapi atau makanan yang mengandung susu sapi. Harus diketahui riwayat pemberian makanan lainnya termasuk diet ibu saat pemberian ASI dan pemberian makanan pendamping lainnya. Harus diketahui juga gejala alergi asma, rinitis alergi, dermatitis atopik, urtikaria, alergi makanan, dan alergi obat pada keluarga (orang tua, saudara, kakek, nenek dari orang tua), dan pasien sendiri.
  • Gejala klinis pada kulit seperti urtikaria, dermatitis atopik, ras. Saluran napas: batuk berulang terutama pada malam hari, setelah latihan asma, rinitis alergi. Gangguan saluran cerna, muntah, diare, kolik dan obstipasi. Pemeriksaan fisik yang mungkin didapatkan adalah ada kulit tampak kekeringan kulit, urtikaria, dermatitis atopik allergic shiner’s, Siemen greasegeographic tongue, mukosa hidung pucat, dan wheezing (mengi)

PATOLOGI ALERGI SUSU

alergi susu sapi dapat dibedakan dalam 2 keadaan, alergi yang diperantarai IgE dan alergi yang diperantarai non-IgE. Alergi yang diperantarai IgE terjadi jika antigen terikat dengan antibodi IgE yang terikat sel mast, sehingga mediator erti histamin dilepaskan dan terjadilah reaksi alergi. Reaksi seperti ini dikenal juga dengan reaksi hipersensitivitas tipe inflamasisep

Reaksi yang diperantarai oleh non-IgE dapat disebabkan oleh banyak faktor, yang melibatkan kompleks imun antibodi IgA atau IgG, atau yang dikenal dengan hipersensitivitas tipe III, dan stimulasi langsung sel T oleh antigen protein susu, atau yang dikenal dengan hipersensitivitas tipe IV. Interaksi ini lalu menyebabkan pelepasan sitokin dan produksi antibodi meningkat, sehingga terjadi rantai reaksi inflamasi.

Pengobatan Alergi Susu

Pengobatan alergi susu sapi pada bayi salah satunya yaitu dengan menghindari protein susu secara total. Jika bayi diberi ASI, ibu yang  menyusui harus diberi makanan yang dapat menghilangkan protein pemicu alergi. Jika gejala tidak juga berkurang, bayi abisa diberi susu  formula sebagai pengganti susu yang memberikan nutrisi yang lengkap untuk bayi. Susu pengganti yang dapat digunakan yaitu susu kedelai,  susu beras/tajin, dan susu formula rendah alergi yang mengandung protein terhidrolisa atau bebas asam amino.

Namun, sekitar sebagian  anak-anak yang alergi terhadap susu sapi juga alergi terhadap susu kedelai. Jadi susu kedelai tidak direkomendasikan untuk bayi yang berusia  dibawah 6 bulan. Tapi bisa dicoba pertama sebagai susu alternatif pada bayi yang berusia diatas 6 bulan. Selain itu, bagi ibu yang menyusui  terdapat beberapa makanan yang harus dihindari agar si kecil tidak terkena alergi, seperti susu sapi, telur, kacang tanah, dan seafood, atau  makanan yang berbahan dasar atau mengandung susu sapi.