Human Immunodeficiency Virus (HIV AIDS) : Pengobatan yang Wajib Diketahui!

Human Immunodeficiency Virus (HIV AIDS) : Pengobatan yang Wajib Diketahui!

A. Pengertian
Human Immunodeficiency Virus (HIV) AIDS merupakan lentivirus, retrovirus berevolusi untuk menghasilkan infeksi peresisten kronis dengan onset gejala-gejala klinis yang bertahap. Manusia dan simpanse merupakan satu-satunya inang untuk virus ini (Goodman & Gilman., 2011).

Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebabkan oleh retrovirus HIV dan ditandai oleh imunosupresi berat yang menyebabkan infeksi opurtunistik, neoplasma secunder, dan kelainan neurologis (Abbas. A.K., 2009).
B. Epidemiologi
Penularan Human Immunodeficiency Virus (HIV) AIDS terjadi pada kondisi yang mempermudah pertukaran darah atau cairan tubuh yang mengandung virus atau sel terinfeksi virus. Tiga rute utama penularan adalah kontak seksual, inokulasi parenteral, dan penyaluran virus dari ibu yang terinfeksi kepada neonates. Transmisi seksual jelas merupakan cara penyebaran utama infeksi seluruh dunia yang menyebabkan lebih dari 75% kasus penularan HIV. Penularan HIV terjadi pada :

1. Kebanyakan transmisi seksual terjadi pada pria homoseksual. Virus terdapat di dalam semen. Penularan virus melalui 2 cara :

a. Inokulasi langsung ke dalam pembuluh darah yang terbuka karena trauma
b. Ke dalam sel dendritik atau sel CD4+ di dalam mukosa. Selain transmisi pria ke pria dan pria ke wanita, juga terdapat bukti yang menunjang penularan wanita ke pria. HIV terdapat dalam secret vagina dan sel servix wanita yang terinfeksi.
2. Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular seksual terutama menyebabkan peradangan genital seperti genore dan klamidia, juga merupakan ko faktor dalam penularan HIV. Dalam keadaan peradangan genital konsentrasi virus dan sel yang mengandung virus di cairan genital meningkat akibat peningkatan jumlah sel radang di dalam sel.

3. Transmisi parenteral

Transmisi parenteral terjadi pada 3 kelompok individu
a. Pengguna obat terlarang intravena
b. Pengidap hemophilia yang mendapat konsentrat faktor VIII
c. Beberapa penerima transfuse darah

Penularan terjadi melalui pemakaian bersama jarum suntik, tabung suntik, dan pernikpernik  lain yang tercemar oleh darah yang mengandung HIV.

4. Penularan ibu ke bayi
Penularan ibu ke bayi merupakan kausa utama AIDS pediatric. Ibu yang terinfeksi dapat menularkan virus ke bayi mereka melalui 3 rute :
a. in utero dengan penyebaran melalui plasenta

b. Sewaktu melahirkan melalui jalan lahir yang terinfeksi

c. Setelah lahir melalui ingesi ASI

siklus hiv aids

C. Siklus Hidup HIV

1. Pengikatan dan fusi
HIV dimulai siklus hidupnya ketika berikatan dengan reseptor CD4 dan salah satu dari dua co-reseptor pada permukaan CD4 + Tlymphocyte. Virus ini kemudian bergabung dengan sel host. Setelah fusi, virus melepaskan RNA, yang mengandung materi genetik ke dalam sel inang.

2. Transkripsi Balik :

RNA virus yang cukup panjang memasuki sitoplasma dan direplikasi oleh. Enzim HIV disebut reverse transcriptase menjadi dupleks RNA-DNA dengan waktu hidup yang singkat.

3. Integrasi:
DNA HIV yang baru terbentuk memasuki inti sel inang, di mana HIV enzim yang disebut integrase “menyembunyikan” DNA HIV dalam DNA sel inang sendiri. DNA HIV yang terintegrasi disebut provirus. Provirus mungkin tetap tidak aktif selama beberapa tahun dan memproduksi sedikit atau ada salinan baru HIV.

4. Transkripsi:
Ketika sel inang menerima sinyal untuk menjadi aktif, provirus menggunakan enzim penjamu yaitu RNA polimerase untuk membuat salinan bahan genom HIV, serta mRNA. mRNA digunakan sebagai cetakan untuk membuat untaian rantai panjang protein HIV.

5. Penggabungan
Enzim protease memotong rantai panjang protein HIV menjadi protein yang lebih kecil kemudian bergabung salinan material genetic RNA HIV, partikel virus baru dirakit.

6. Pembentukan tunas dan pematangan
Virus baru yang telah dirakit terdorong keluar (membentuk tunas) dari sel inang. Virus yang baru menggunakan bagian luar sel sebagai pembungkus. Pembungkus ini yang bertindak sebagai penutup yang mengandung kombinasi protein / gula yang disebut glikoprotein HIV. Glikoprotein HIV ini diperlukan bagi virus untuk mengikat CD4 dan coreceptors. Pada kondisi ini salinan baru HIV dapat
menginfeksi sel-sel lain.

D. Etiologi dan Patogenesis

AIDS disebabkan oleh retrovirus RNA (HIV). Masuknya HIV ke dalam limfosit T dapat
menimbulkan :
(1) Kerusakan sel akut, yang menyebabkan penurunan progresif sel CD4+
(2) Infeksi laten, dengan inersi genom provirus ke dalam DNA penjamu (Chandrososma. P., 2005)

Pada awalnya, HIV menginfeksi sel T dan makrofag secara langsung atau dibawa ke sel-sel ini oleh sel Langerhans. Reflikasi virus di kelenjar limfe regional menyebabkan viremia dan pembenihan viremia dan pembenihan yang luas di jaringan-jaringan limfoid. Viremia dikendalikan oleh respon imun penjamu, dan pasien kemudian masuk ke fase laten klinis.

Selama fase ini, reflikasi virus di sel T dan makrofag berlanjut tanpa henti. Akan tetapi, virus sedikit banyak dapat ditahan oleh system imun. Terjadi penurunan CD4+ yang berlanjut akibat infeksi yang produktif. Akhirnya jumlah sel CD4+ menurun, dan pasien mengalami gejala klinis AIDS. Makrofag juga terinfeksi oleh HIV sejak awal, sel ini tidak dilisiskan oleh HIV, dan malah dapat menjadi sarana transportasi virus ke jaringan, terutama otak (Abbas. A.K., 2009).
E. Manifestasi dan Stadium Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) AIDS

1. Masa Inkubasi
Pada pasien yang tertular melalui transfuse darah (tanggal inokulasi terdokumentasi)), masa inkubasi rata-rata antara infeksi HIV dan perkembangan AIDS diperkirakan 4 ½ tahun. Pada penyakit menular seksual, hal tersebut lebih lama, yaitu 8-10 tahun. Pada anak kecil masa inkubasi lebih pendek disbanding pada dewasa. Selama masa inkubasi, individu memiliki antibody HIV dan dapat menunjukkan perubahan pada limfosit darah perifer, tetapi hal tersebut asimtomatik.

2. Perubahan pada system imun
Infeksi HIV menyebabkan penurunan jumlah sel T helper di dalam darah perifer. hal ini dapat disertai dengan peningkatan jumlah sel T supresor/sitotoksik. Perubahan ini dapat menyebabkan imunodefisiensi fungsional.

3. Kompleks terkait-AIDS (ARC)
Pasien ARC adalah positif HIV dan bergejala, tetapi tidak memiliki penyakit indicator yang digunakan untuk menentukan AIDS. Pasien mengeluh letih, berat badan turun, keringat malam, diare, dan mengalami infeksi jamur superficial pada mulut, kuku jari tangan dan kaki. Komponen ARC yang paling diketahui adalah kelainan kelenjar getah bening. Pada stadium awal kelenjar getah bening mengalami hyperplasia folikel reaktif
dan kondisi ini disebut limfadenopati generalisata persisten. Pada stadium lanjut,kelenjar limfe menunjukkan pengurangan limfosit,

4. AIDS
AIDS merupakan fase akhir infeksi HIV dengan pasien yang mengidap satu dari banyak infeksi oppurtunistik atau neoplasma yang menentukan penyakit ini.infeksi opurtunistik yang paling sering adalah pneumonia p.carinii, candidiasis esophagus, infeksi sitomegalovirus, sarcoma Kaposi, dll.
(Chandrososma. P., 2005)
F. Treatment
Metode utama pencegahan AIDS yang ada adalah pendidikan masyarakat tentang metode penularan HIV, penggunaan kondom, skrening donor darah terhadap antibody HIV, penggunaan sarung tangan, pakaian kedap-air, masker, dan pembuangan jarum yang aman (Chandrososma. P., 2005).

Tujuan terapi dari kemoterapi HIV adalah menekan replikasi virus sebanyak mungkin dan selama mungkin Pedoman untuk memulai terapi pada pasien terinfeksi HIV yang belum pernah menerima pengobatan menurut departemen kesehatan dan pelayanan Masyarakat Amerika Serikat, 2004

Incoming search terms:

  • fna hiv disebut provirus
Show Buttons
Hide Buttons
error: Content is protected !!